Bahasa Daerah (Akan) Tetap Ada atau Tidak ?

Bahasa Daerah (Akan) Tetap Ada atau Tidak ?
Bahasa Daerah, (Akan) Tetap Ada atau Tidak ?
Bahasa daerah merupakan suatu warisan tertua di masyarakat, jauh sebelum manusia mengenal budaya-budaya seperti tari-tarian. Akan Tetapi keberadaannya kini kian memprihatinkan.

Terlebih pada wilayah perkotaan, masyarakat enggan menggunakan bahasa daerah terutama pada lingkungan komplek. Mungkin karena para penghuni komplek yang berbeda suku.

Bukti nyata bahwa bahasa daerah mulai ditinggalkan ialah penggunaan bahasa gaul pada usia anak-anak, remaja dan dewasa muda. Bahasa gaulpun jauh dari kaidah penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terkadang tercampur dengan bahasa Inggris.

Sementara Indonesia mempunyai 750 lebih jenis bahasa daerah, namun pada sebuah penelitian disebutkan bahwa jumlah bahasa daerah kian menipis yakni sekitar 400-an yang masih terpakai walaupun jumlah sedikit. Faktor utamanya ialah kurang pedulinya generasi muda kepada bahasa daerah.

Tercatat bahasa Jawa adalah bahasa dengan tingkat penggunanya paling tinggi, disusul dengan Bahasa Sunda pada posisi kedua. Selanjutnya Melayu, Minang, Bugis dan Bali. Di Pulau Papua saja mempunyai kurang lebih 277 bahasa, Sulawesi mempunyai 31 lebih ragam bahasa.

Tidak ada penyebab pasti generasi muda malas menggunakan bahasa daerah. Bahkan beberapa remaja memperolok penggunaan bahasa daerah. Sungguh ironis ditengah Indonesia yang terkenal akan ragam budaya daerah. Orang tua lah yang berkewajiban untuk mengajarkan anaknya berbahasa daerah.

Beri Komentar
Silahkan berkomentar dengan bijak. Jika tidak memiliki akun Disqus, silahkan klik komentar Disqus lalu klik kolom Nama dan centang "Komentar Sebagai Tamu"