Konsep Cepot Dalam Kehidupan Berbangsa dan Negara

Konsep Cepot Dalam Kehidupan Berbangsa dan Negara
Konsep Cepot Dalam Kehidupan Berbangsa dan Negara
Wayang adalah simbol kehidupan manusia, ceritanya pun berasal dari kehidupan sehari-hari. Ada yang meriwayatkan bahwa Wayang itu mengandung arti ungkapan rasa syukur manusia terhadap Tuhan apa yang telah dikaruniakan. Tapi yang pasti ialah wayang dahulu digunakan sunan untuk mensyiarkan agama Islam.

Wayang sendiri terdiri dari berbagai jenis wayang. Ada Wayang Kulit dari tanah Jawi, Wayang Golek dari tanah Parahyangan, Wayang Bali, dan lainnya. Kesemuanya itu mempunyai ciri khas masing-masing.

Nah, salah satu tokoh Wayang Golek yang terkenal akan jenaka dan dakwahannya ialah Astrajingga atau lebih dikenal Cepot. Astrajingga terdiri dari dua kata yaitu Astra bearti tangan, dan Jingga merupakan salah satu warna. Arti keseluruhan bearti ialah tangan kehidupan. Terdapat banyak sekali filosopi yang terkandung dalam keluarga Semar Badranaya.

Cepot sendiri tokoh yang paling dinanti-nanti saat pegelaran Wayang Golek. Bahkan jika tokoh ini tidak ditampilkan dalam pagelaran, dapat dipastikan penonton akan kecewa. Salah satu yang mengakibatkan Cepot ini terkenal ialah karakternya yang jenaka. Cepot juga mempunyai sifat yang penyanggup, sombong, mau menang sendiri, dan berkata kasar. Tapi dibalik itu semua, Cepot mempunyai jiwa kesetia-kawanan, pemberani, dan tolong menolong.

Lalu apa yang harus diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ? Jika dilihat dengan pandangan berbeda, Cepot ini merupakan seorang rakyat kecil yang dekat dengan pemimpin. Bukan hanya itu, Cepot siap sedia jika negara membutuhkannya, malaupun nyawa adalah taruhannya. Karena dalam keyakinannya bahwa rakyat seharusnya mengabdi kepada negara terlebih pemimpin itu sudah menjalankan tugasnya.

Cepot juga seorang rakyat yang selalu memberikan aspirasi dan saran kepada pemimpinnya. Tak segan-segan jika pemimpin sudah tidak memperdulikan rakyatnya, maka sudah mempunyai hak untuk menegur dan menyadarkan pemimpinnya. Pemimpin bukanlah kekuasaan semata, tetapi memiliki tanggung jawab luar biasa dalam mengurusi rakyatnya. Jika pemimpin bukan memimpin rakyatnya, lantas mau memimpin seorang kecoa ? Inilah yang selalu disindir pada setiap pagelaran Wayang Golek.

Lebih dari itu, kerajaan Amarta memiliki pemimpin yang dekat dengan rakyat. Pemimpin dan rakyat pun saling bahu membahu dalam menjadikan negara yang Gemah Ripah Loh Jinawi Aman Kerta Santosa Lan Laharja. Dan sama-sama berperang melawan kerajaan Kurawa yang mempunyai ambisi menjajah bangsa lain.

Inilah sindiran keras bagi negara kita, seharusnya Pemerintah dengan Rakyat saling bahu-membahu dan mendukung. Bukan pemimpin yang selalu menyusahkan rakyatnya, selain itu pemimpin bertindak tegas terhadap negara-negara yang ingin merebut kedaulatan kita. Bukan bekerja sama dengan bangsa sekuler.

Mungkin inilah pesan yang disampaikan tersirat oleh orang tua kita dahulu yang menginginkan bangsa ini maju dan tidak terpengaruhi bangsa asing. Akurnya pemimpin dengan rakyat merupakan bukti negara tersebut adalah negara yang kuat dan maju.

Beri Komentar
Silahkan berkomentar dengan bijak. Jika tidak memiliki akun Disqus, silahkan klik komentar Disqus lalu klik kolom Nama dan centang "Komentar Sebagai Tamu"