Pantaskah Terus Memaki-Maki dan Mengumbar Kesalahan Orang Lain ?

Pantaskah Terus Memaki-Maki dan Mengumbar Kesalahan Orang Lain ?
Pantaskah Terus Memaki-Maki dan Mengumbar Kesalahan Orang Lain ?
Sudah menjadi sifat manusia bahwa seseorang akan marah jika orang lain berbuat salah kepadanya. Pantas, karena kita menjadi kecewa terhadapnya. Tetapi tahukah anda, apakah kita pantas terus memaki-makinya, mengumbar kesalahan, didepan umum lagi, dan apalagi berniat agar mempermalukannya ? Padahal orang itu mengakui kesalahannya dan sudah meminta maaf ?

Sebelum menjawab pertanyaan tadi marilah kita simak beberapa penjelasan dari Hadits dan al-Qur'an berikut :
Dari Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu, Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

“Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Alloh akan melepaskan darinya kesusahan di hari kiamat, barang siapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit niscaya Alloh akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.

Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Alloh akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Alloh akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.

Barang siapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan jalan baginya menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh untuk membaca Kitabulloh dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketenteraman, rahmat Alloh akan menyelimuti mereka, dan Alloh memuji mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya.

Barang siapa amalnya lambat, maka tidak akan disempurnakan oleh kemuliaan nasabnya.”
(Hadits dengan redaksi seperti ini diriwayatkan oleh Muslim)
Hadits diatas dimuat dalam sebuah kitab yakni  Syarah Arba’in karya Imam An-Nawawi. Disana disebutkan beberapa keutamaan sebagai berikut :
- Membantu Kesulitan
Membantu saudaranya untuk terlepas dari kesulitan merupakan kebajikan yang mendatangkan pahala yang sangat besar baik di dunia maupun di akhirat. Kesulitan apapun dan bantuan dalam bentuk apapun.

- Menutup Aib
Menutup aib saudaranya wajib hukumnya. Baik saudaranya banyak berdosa, lebih-lebih saudara yang taat. Membuka aib hanya boleh dilakukan oleh pihak-pihak tertentu dengan tetap memenuhi ketentuan syariat.

Dalam hadits lain disebutkan :
Dari Abu Hurairah r.a. lagi, katanya: "Nabi s.a.w. didatangi oleh sahabat-sahabatnya dengan membawa seorang lelaki yang telah minum arak. kemudian beliau bersabda: "Pukullah ia-sebagai hadnya." Abu Hurairah berkata: "Di antara kita ada yang memukul orang itu dengan tangannya, ada pula yang memukulnya dengan terumpahnya, bahkan ada yang memukulnya dengan pakaiannya. Setelah orang itu pergi, lalu sebagian orang banyak itu ada yang berkata: "Semoga engkau dihinakan oleh Allah." Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jangan berkata demikian itu, janganlah engkau semua memberikan pertolongan kepada syaitan - untuk menggodanya lagi." (Riwayat Bukhari)
Jelas bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam melarang kita berniat (baca : mengucapkan) agar seseorang dihinakannya oleh Allah Subhanallahu wa ta'ala, baik dihadapan umum atau pun tidak.

Nah, terjawab sudah pertanyaan tadi ? Tidak sepantasnya bagi seorang muslim untuk terus memaki-maki saudaranya apalagi menyebarkan aib seseorang, baik yang berbuat salah maupun tidak. Ingat bahwa kesalahan seseorang adalah aib, dan aib adalah aurat seseorang. Maka sekali lagi apakah pantas kita mengumbar aurat seseorang ?

Marah boleh tapi apakah marah-marah itu baik ? Tidak, dan sekali lagi tidak. Simak hadits berikut :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” H.R. al-Bukhari (no. 5763) dan Muslim (no. 2609)
 Hadits diatas adalah keutamaan bagi seseorang agar bisa mengendalikan amarahnya. Bahkan Allah Subhanallahu wa ta'ala memuji bagi mereka dalam firman-Nya :
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ 
"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 134)
 Dan satu lagi kabar gembira bagi anda yang bisa menahan amarahnya ialah dalam hadits berikut :
Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda : “Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya”

HR Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

Referensi :
https://muslim.or.id/6169-atasi-marahmu-gapai-ridho-rabbmu.html
Kitab Riyadhush Shalihin karya Imam An-Nawawi, bab Menutupi Cela-Cela Kaum Muslimin Dan Melarang Untuk Menyiar-nyiarkannya Tanpa Adanya Kepentingan Darurat 
Kitab Syarah Arba’in karya Imam An-Nawawi

Beri Komentar
Silahkan berkomentar dengan bijak. Jika tidak memiliki akun Disqus, silahkan klik komentar Disqus lalu klik kolom Nama dan centang "Komentar Sebagai Tamu"