Sikap Kita Terhadap Fenomena Gerhana, Euforia atau Takut ?

Sikap Kita Terhadap Fenomena Gerhana, Euforia atau Takut ?

Tepat hari ini (09/03/2016) terjadi fenomena yang langka sekali terjadi, yakni Gerhana Matahari Total di Indonesia. Gerhana Matahari Total ini terjadi sekitar puluhan tahun sekali di Indonesia. Tak ayal fenomena ini membuat antusias masyarakat untuk melihat gerhana ini secara langsung. Lalu sikap apakah yang harus kita tunjukan ?

Sebelum itu kita akan membahas penjelasan ilmiah mengapa terjadi fenomena gerhana. Gerhana Matahari terjadi akibat terhalangnya sinar matahari oleh Bulan. 'Piringan' Bulan mampu menghalangi cahaya matahari karena jarak bulan ke bumi jauh lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi.[1]

Gerhana Matahari Total 2016 hanya disaksikan oleh 10 provinsi di Indonesia, provinsi lainnya hanya melihat gerhana Matahari Parsial atau sebagian yang presentasinya dari 50% sampai 80%. Negara lainnya pun turut melihat gerhana Matahari Parsial seperti Malaysia, Kamboja, Brunai Darussalam, Filipina, Australia, dan negara Pasifik lainnya. Rata-rata gerhana Matahari Total memiliki waktu sekitar 1-2 menit saja.[2]

Karena jarang sekali terjadi dan hanya di Indonesia, membuat beberapa Pemerintah Daerah mengadakan wisata Gerhana Matahari Total bahkan ada yang mengadakan konser musik sebagai 'perayaan' Gerhana Matahari Total. Wisatawan yang menyaksikan Gerhana Matahari Total ini bukan hanya dari Indonesia tetapi wisatawan mancanegara pun datang. Selain itu, Badan Antariksa Amerika Serikat Nasa datang untuk meneliti fenomena Gerhana ini.

Beberapa Stasiun Televisi di Indonesia pun turut memeriahkan fenomena ini dengan menayangkan secara langsung proses Gerhana Matahari Total dari beberapa wilayah Provinsi.

Yang jadi permasalahan dalam fenomena Gerhana ini ialah euforia dan antusias masyarakat. Tak sedikit mereka mengabadikan fenomena ini dengan kamera ponselnya, ber-selfie ria, bahkan ada yang sampai berteriak histeris. Astaghfirullah

Padahal dalam Islam sendiri dijelaskan bahwa sikap kita saat Gerhana ialah takut bukan menciptakan euforia. Hal ini dijelaskan dalam hadits bahwa Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam takut terhadap gerhana karena khawatir terjadi kiamat.

Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan, ”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa.”
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda,”Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampun kepada Allah.” [3]
Gerhana ini bukan saja sebagai fenomena alam semata tetapi bisa jadi sebagai tanda kiamat, adzab, dan atau lainnya. Wallahu'alam

Referensi :
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Gerhana_matahari
[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Gerhana_matahari_9_Maret_2016
[3]  HR. Muslim no. 912
4 https://rumaysho.com/753-panduan-shalat-gerhana.html

Beri Komentar
Silahkan berkomentar dengan bijak. Jika tidak memiliki akun Disqus, silahkan klik komentar Disqus lalu klik kolom Nama dan centang "Komentar Sebagai Tamu"