Cut Nyak Dien, Pahlawan Wanita yang Hafidz al-Qur'an

Cut Nyak Dien, Pahlawan Wanita yang Hafidz al-Qur'an

Lahirnya Tjoet Nja' Dhien


Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Kesultanan Aceh (sekarang Indonesia) pada tahun 1848. Lahir dari pasangan Teuku Nanta Seutia dan putri uleebalang Lampagar. Cut Nyak Dien sejak kecil sudah diajarkan pendidikan Agama Islam oleh kedua Orang Tuanya maupun tokoh agama setempat.

Pada saat berumur 12 tahun, Cut Nyak Dien sudah dijodohkan oleh Orang Tuanya dengan laki-laki bernama Teuku Cek Ibrahim Lamnga.

Sumpahnya Melawan Kaphe Ulanda


Akhir Maret 1873, Belanda menyatakan berperang dengan Aceh. Perang ini membuat wanita-wanita dan anak-anak mengungsi, termasuk Cut Nyak Dien. Sampailah pada tanggal 29 Juni 1878, suami dari Cut Nyak Dien meninggal dunia akibat Perang antara Aceh dan Belanda. Kematian Teuku Cek Ibrahim Lamnga membuat Cut Nyak Dien bersumpah melawan kafir Belanda.

Ditengah semangatnya melawan Pasukan Belanda, Cut Nyak Dien dilamar oleh Teuku Umar. Awalnya ia menolak, namun karena bujukan Teuku Umar dan membolehkannya bertempur, akhirnya Cut Nyak Dien menerimanya.

Teuku Umar sendiri berperang dengan cara menipu pasukan Belanda. Ia berpura-pura menyerahkan diri dan bersedia membantu Belanda melawan rakyat Aceh. Aksi ini membuat Teuku Umar dan Cut Nyak Dien mulai dibenci oleh rakyat Aceh, bahkan Cut Meutia memarahi Cut Nyak Dien agar kembali menyerang kafir Belanda.

Waktu ke waktu, pasukan Aceh semakin kuat. Basis-basis Belanda telah diisi oleh Pasukan Aceh. Suatu hari, Teuku Umar dan Cut Nyak Dien mengatakan kepada Belanda bahwa ia akan menyerang pasukan Aceh. Mereka membawa Alat perlengkapan Belanda dan setelahnya tidak pernah kembali kepada basis kekuatan Belanda.

Hal ini membuat Belanda marah kepada Teuku Umar dan mencabut gelar Teuku Umar Johan Pahlawan yang sebelumnya ia peroleh saat menyerah kepada Belanda. Namun perlawanan pasukan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien membuat Belanda sibuk mengganti-ganti Jendral yang bertugas di Aceh.

Belanda melawan dengan memerintahkan pasukan Maréchaussée yang dianggap biadab dan sulit ditaklukan oleh pasukan Aceh. Pasukan tersebut kebanyakan diisi oleh orang Tionghoa dan Ambon. Tak lama setelah diluncurkannya pasukan tersebut, Belanda menariknya kembali.

Akhirnya pasukan Belanda berhasil menaklukan Teuku Umar, Belanda membunuhnya dengan menembak setelah mengetahui informasi bahwa Teuku Umar akan menyerang Meulaboh dari seorang mata-mata suruhan Belanda.

Kematian suami kedua membuat Cut Nyak Dien memimpin pasukan seorang diri dibantu anak keduanya dari Teuku Umar yang bernama Cut Gambang. Bermarkas di tengah hutan membuat pasukan Cut Nak Dien menderita kelaparan, ditambah penyakit rabun dan encoknya Cut Nyak Dien membuat salah satu pasukannya iba dan melaporkan keberadaannya kepada pihak Belanda.

Belanda datang menyerang habis-habis pasukan Cut Nyak Dien, saat itu juga ia mengambil senjata Rencong namun digagalkan oleh Pasukan Belanda. Akhirnya ia ditangkap oleh pasukan Belanda dan dibuang ke Sumedang. Anaknya Cut Gambang melarikan diri ke hutan.

Dibuang ke Sumedang dan Mendapatkan Gelar Ibu Suci


Karena takut perlawanan rakyat Aceh semakin kuat karena pengaruh Cut Nyak Dien, membuat Belanda membuangnya jauh-jauh ke pulau Jawa, tepatnya di Sumedang, Hindia Belanda (sekarang Sumedang, Jawa Barat, Indonesia) pada tanggal 11 Desember 1906. Namun indentitasnya sebagai Cut Nyak Dien dari Aceh dirahasiakan oleh Belanda.

Di Sumedang, Cut Nyak Dien mendapatkan keistimewaan dari Bupati Sumedang saat itu Pangeran Suriaatmadja menerimanya dan menitipkannya kepada ulama Masjid Agung Sumedang Kyai Haji Sanusi, namun karena rumahnya sedang direnovasi membuat Cut Nyak Dien tinggal di H. Ilyas.

Menurut salah satu sumber, Cut Nyak Dien datang ke Sumedang sudah dalam sakit-sakitan. Penyakit rabun-nya sudah semakin parah. Namun tetap, dalam kondisinya seperti itu Cut Nyak Dien selalu mengadakan pengajian di rumah H. Ilyas dan mengajarkan Al-Qur'an.

Aktifitas dakwahnya di Sumedang ini membuat rakyat Sumedang mencintainya dan memberinya gelar Ibu Perbu (Ratu) dari sebrang, dan Ibu Suci karena beliau hafal Al-Qur'an.

Takdir memang tidak bisa ditolak, Cut Nyak Dien meninggal dunia setelah dua tahun berada di Sumedang pada tanggal 6 November 1908. Cut Nyak Dien dimakamkan di Kompleks Makam Keluarga Gunung Puyuh, Sumedang.

Cut Nyak Dien Dikenal setelah Gubernur Aceh Menemukannya


Karena identitasnya dirahasiakan oleh Pihak Belanda, rakyat Sumedang tidak tahu bahwa perempuan yang dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang adalah Cut Nyak Dien yang merupakan pejuang pemberani dari Aceh.

Baru setelah Gubernur Provinsi Nangroe Aceh Darussalam saat itu, Prof Ali Hasmy (sumber lain menyebutkan Ali Hasan) melakukan penelusuran keberadaan Cut Nyak Dien. Setelah memperoleh informasi dari Belanda, semua baru tahu bahwa Cut Nyak Dien dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.

Setelah diketahui, Gubernur Aceh Ibrahim Hasan datang ke Sumedang untuk berkunjung ke makan Cut Nyak Dien dan merenovasi bangunan makam Cut Nyak Dien. Baru diresmikan oleh Gubernur Ibrahim Hasan pada tahun 1987.

Cut Nyak Dien ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno dengan SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

Kontroversi Foto Cut Nyak Dien


Peristiwa ini mencuat setelah di sosial media Facebook dalam akun Seuramoe Mekkah mengunggah foto Cut Nyak Dien berjilbab sebagai bukti penyesatan sejarah. Namun tak lama, terkuak bahwa foto tersebut merupakan istri dari Panglima Polim. Namun tetap, belum ada fakta sejarah yang menyatakan bahwa Cut Nyak Dien berjilbab atau tidak, yang pasti beliau adalah Pejuang yang Hafidz Qur'an.


Referensi :
- https://id.wikipedia.org/wiki/Cut_Nyak_Dhien
- http://daerah.sindonews.com/read/1089000/29/cut-nyak-dien-pahlawan-asal-aceh-ibu-sucinya-warga-sumedang-1456665649

Beri Komentar
Silahkan berkomentar dengan bijak. Jika tidak memiliki akun Disqus, silahkan klik komentar Disqus lalu klik kolom Nama dan centang "Komentar Sebagai Tamu"