Antara Game Online, Sinetron, dan Remaja

Antara Game Online, Sinetron, dan Remaja
Permasalahan kompleks terhadap remaja pada era ini ialah tidak terlepas dari namanya Game Online dan Tayangan Sinetron. Kemajuan teknologi dan kemudahan remaja dalam mengakses membuat permasalahan ini semakin rumit.

Game online adalah permainan digital (komputer) yang membutuhkan akses internet untuk memainkannya. Menurut sejarah, game online awalnya di peruntukan untuk pendidikan karena memudahkan siswa belajar. Tahun 1969 adalah tahun pertama diciptakan game online.

Banyak sekali jenis dari game online, dikutip dari Wikipedia.org bahwa permainan dalam jaringan ini dibagi menjadi beberapa tipe. Diantaranya ialah Berdasarkan Jenis Permainan, Berdasarkan Grafis, dan Berdasarkan Cara Pembayaran.

Sedangkan Sinetron adalah akronim dari kata Sinema dan Elektronik. Sinetron sendiri adalah tayangan drama yang terbagi dalam episode-episode. Dalam perkembangannya tayangan sinetron hanyalah tayangan yang memuat adegan kekerasan, porno, dan jauh dari kata mendidik.

Game online dan sinetron adalah sumber masalah yang ada pada remaja. Rasa ketertarikan dan dipilih menjadi bahan pelampiasan masalah membuat mereka kecanduan. Jika hanya sekedar menonton sinetron dan hanya memainkan game online saja maka tidak akan ada dampak negatif kecuali sedikit.

Karena manusia adalah homo ludes (mahkluk bermain) dan homo esparans (mahkluk yang selalu berharap), ditambah ketidakmampuan mengendalikan itu semua membuat remaja saat ini rela mengorbankan apapun demi tercapainya kesenangan.

Dari Game Online saja, seseorang rela berbohong demi bisa main game, seseorang rela bolos sekolah demi bisa main game, seseorang rela menghabiskan waktunya demi bisa main game, bahkan seseorang rela mencuri dan menjual narkoba demi bisa main game. Untuk urusan sinetron, hampir semua gaya baik itu busana, tingkah laku, bahkan adegan kekerasan pun ditiru oleh remaja. Naudzubillahi min dzalik! 

Dalam urusan dampak negatif, kita tidak usah membanding-bandingkan mana yang lebih buruk dari kedua permasalahan diatas. Nyatanya keduanya andil dalam menjerumuskan remaja dalam permasalahan.

Keduanya bisa menjadikan remaja yang mentalnya lemah dan melakukan tindakan kriminal seperti perkelahian, pemerkosaan, pembunuhan, dan sebagainya. Karena kecanduannya, semua yang ada pada sinetron dan game online akan tersugesti dalam alam bawah sadarnya.

Diantara ciri seseorang yang sudah kecanduan ini ialah mudah marah, emosional, mudah mengucapkan kata-kata kotor, memaki, dan lainnya. Tidak aneh ketika kita menemukan orang yang mudah sekali mengucapkan kata seperti tolol, goblok, kampret, dan kalimat ejekan lainnya. Padahal dia tidak tahu bahwa orang yang ia sebut kasar tadi adalah orang yang berpendidikan, berpengetahuan, dan jauh lebih baik dari mereka. Beda sekali dengan orang yang berpendidikan!

Dari semua ciri diatas merupakan tanda seseorang yang terhambat proses kedewasaannya, mereka cenderung mempunyai sifat yang kekanak-kanakan yang di ibaratkan ketika mainan-nya hilang maka ia akan meronta-ronta atau memberontak supaya mainan-nya bisa kembali.

Jangan pernah berkata bahwa jikalau tidak main game dan tidak nonton sinetron apakah kita harus ikut seks bebas, pergaulan bebas, narkoba, geng motor, mabuk-mabukan ? Tidak, dan sekali-kali Tidak! Jika anda berpikir bahwa game online tidak membawa dampak, maka percayalah omongan tadi adalah bukti yang kuat.

Bukankah dalam agama kita diajarkan dalam menyelesaikan masalah ? Bukankah dalam agama kita diajarkan bagaimana mengatur hubungan antar individu ? Bukankah dalam agama kita diajarkan bagaimana mengurangi stress ? Bukankah dalam agama kita sudah diatur apa yang menjadi urusan manusia ? Jangan bertindak dan berkata bodoh, sobat !

Mari tinggalkan hal tersebut sob, masih banyak aktivitas yang jauh lebih baik dari pada game online dan menonton sinetron. Apalagi kita belum tahu apa hukum game online dalam agama Islam ? Jika kita tahu berdosa, maka dosa tersebut akan ditambah karena perbuatan kita.

Insyaa Allah selanjutnya kita bahas bagaimana hukum dari sudut pandangan Islam dan saya yakin pembahasan ini tidak selesai dari artikel ini...

Beri Komentar
Silahkan berkomentar dengan bijak. Jika tidak memiliki akun Disqus, silahkan klik komentar Disqus lalu klik kolom Nama dan centang "Komentar Sebagai Tamu"