Ridwan Kamil : Saya Tidak Perlu Jilat Menjilat Seperti yang Dikira

Ridwan Kamil : Saya Tidak Perlu Jilat Menjilat Seperti yang Dikira
Ridwan Kami atau akrab disapa Kang Emil mengapresiasi pemikiran Presiden Republik Indonesia ke 5 Megawati Soekarnoputri yang telah meraih gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Namun apresiasi ini dianggap 'ada apanya' oleh segelintir orang. Selain itu, Kang Emil yang akrab dengan Prabowo Subianto juga dianggap sebagai 'penjilat'.

Atas tuduhan itu Kang Emil menjawabnya dengan statusnya di Facebook-nya. Emil menjelaskan bahwa ia hanyalah belajar terhadap figur-figur politik. Belajar itu bisa dari siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Belajar bisa dari atasan, bawahan, jalanan, dan dari kearifan lokal.

Selanjutnya Kang Emil menegaskan kembali dirinya tidak akan maju sebagai Bakal  Calon Gubernur DKI Jakarta tahun 2017. Justru ia rindu jika selesai menjadi Walikota kembali menjadi arsitek. Ia menambahkan bahwa jangan terlalu mengidolakan manusia, karena pasti akan kecewa, karena sejatinya manusia adalah gudangnya khilaf, termasuk para pemimpin.
BELAJAR

Dua hari lalu, saya mengapresiasi Pak Jokowi. eh dikira "pasti ada maunya". Kemarin saya mengapresiasi pemikiran Bu Megawati, dikira "pasti ada maunya". Saya sering memuji Pak Prabowo, dikira "pasti ada udang dibalik batu". Saya belajar 'public speaking' dari si cinta yang mantan MC, eh tidak ada yang komentar.

wahai kawan, belajar itu bisa kita serap dari siapa saja. Belajar dari atasan, bisa belajar pula dari bawahan. Belajar dari buku, bisa belajar pula dari jalanan. Belajar dari kearifan lokal, bisa juga belajar dari asing aseng.

Bahkan dari melihat jenazah pun kita bisa belajar sesuatu. Setiap mahluk adalah guru. Setiap tempat adalah sekolah.

Di seminar Muhammadiyah kemarin di Yogya, dalam wacana Kepemimpinan saya hanya menyampaikan dalam sejarah kepemimpinan ada 4 tipe: tipe ideologis/sabda (nabi, rasul dll), tipe geografis (raja,ratu), tipe revolusioner (sukarno, gandhi dll) dan tipe ke4, yaitu tipe dari orang kebanyakan (jokowi, risma dll). Saya bilang rakyat hari ini tidak perlu sosok pemimpin seperti Nabi, Raja atau pemimpin besar revolusioner. Rakyat hari ini butuh sosok pemimpin yang gayanya tidak ada bedanya dengan mereka. Bedanya hanya lebih sibuk karena amanahnya.

itu saja. saya tidak perlu jilat menjilat seperti yg dikira. Saya tdk jadi bacalon gubernur jakarta konsultasi juga ke Pak Prabowo (tdk diliput media) dan Ketua DPR, tidak hanya ke Pak Jokowi. Saran ketiganya sama: sebaiknya jangan, dengan alasan masing-masing.

Tidak jadi walikota/gubernur juga saya ndak masalah. malah saya rindu jadi arsitek lagi. hidup ini, seperti nasehat ibu saya, yg terpenting adalah selalu memberi manfaat pada masyarakat apapun takdir profesinya.

Masalah cara eksis di medsos itu hanya masalah 'gaya' komunikasi ke publik. Gaya komunikasi itu macam2. ada gaya diam, ada gaya ceriwis, ada gaya lebay, ada gaya marah2. Tidak semua akan suka dgn masing2 gaya tersebut.

Dalam hidup, Bekerja itu adalah ihtiar. Berkarya karena kebutuhan, bukan dalam rangka pujian. Karena jika bekerja dengan motivasi pujian pasti akan banyak kecewanya. itu keyakinan saya.

Terakhir:

sebaiknya jangan terlalu mengidolakan manusia, karena pasti akan kecewa, karena sejatinya manusia adalah gudangnya khilaf, termasuk para pemimpin. Saya pasti tidak sempurna. Anda sempurna?

Dikutip dari laman Facebook : Ridwan Kamil, https://www.facebook.com/RKbdg/photos/a.165770243574805.1073741828.163237587161404/676359165849241/?type=3

Beri Komentar
Silahkan berkomentar dengan bijak. Jika tidak memiliki akun Disqus, silahkan klik komentar Disqus lalu klik kolom Nama dan centang "Komentar Sebagai Tamu"