Teori Worm Hole dan Misteri Isra' wal Mi'raj Nabi Muhammad

Teori Worm Hole dan Misteri Isra' wal Mi'raj Nabi Muhammad
Tanggal 27 rajab disepakati mayoritas umat Islam dimana Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam melakukan dua perjalanan yang berbeda dalam satu malam, peristiwa pertama ialah perjalanan dari Makkah ke daerah Palestina dan peristiwa kedua ialah perjalanan dari Palestina ke Sidratul Muntaha dalam satu malam. Namun tidak ada dalil yang menguatkan kapan terjadinya peristiwa ini.

Jika dipikir dengan logika manusia maka sangatlah tidak mungkin perjalanan yang begitu jauh dilakukan oleh manusia. Jika peristiwa Isra' bisa kita cerna karena perjalanan ribuan kilometer bisa ditempuh dalam beberapa jam saja dengan menaiki pesawat, namun pertanyaannya Adakah Pesawat pada Saat Itu ?

Peristiwa Mi'raj lebih tidak masuk akal lagi (oleh logika manusia), manusia melakukan perjalanan ke luar angkasa dengan jarak berjuta-juta tahun cahaya dan bisa kembali dalam waktu yang sangat singkat. Hanya satu Malam ?!

Keanehan peristiwa Isra' wal Mi'raj Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam membuat beberapa 'Ulama ahli tafsir berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa Nabi Muhammad shalallahu alai hi wa salam melakukan Isra wal mi'raj hanyalah ruh-Nya. Karena tidaklah mungkin dilakukan oleh raga manusia secara dzahir. Namun sebagian besar ulama sepakat bahwa peristiwa Isra wal Mi'raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga. Penyebutan kata "hamba" digunakan untuk ruh dan jasad secara bersamaan.

Di luar angkasa sana, bertebaran sebuah Black Hole atau Lubang Hitam. Lubang hitam ini merupakan tempat di ruang angkasa yang sanggup menyedot apa saja yang disekitarnya dengan gaya gravitasinya yang super kuat sampai cahaya pun tidak bisa keluar dari lubang hitam.

Dalam teori General Relativity Albert Einstein mengatakan bahwa harus ada kebalikan dari lubang hitam, yaitu Lubang Putih (White Hole), namun letaknya bukan alam semesta yang kita tempati melainkan alam kembaran kita. Lubang hitam dan Lubang putih ini terhubung dengan lorong yang disebut Worm Hole (lubang cacing) atau Time Travel.

Lubang Cacing ini merupakan lorong yang dapat melintas antar galaksi bahkan alam kembar tanpa dibatasi ruang, gerak, dan waktu. Dengan kata lain kita bisa melakukan perjalanan yang sangat jauh dalam waktu yang singkat.

Teori yang mengatakan bahwa Buraq, kendaraan yang ditunggangi oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam menggunakan kecepatan cahaya kiranya merupakan kesalahan. Karena walaupun menggunakan kecepatan cahaya, secanggih apapun teknologi yang digunakan tetap perjalanan yang dekat sekalipun di luar angkasa membutuhkan waktu yang sangat lama, umur manusia tidak akan cukup untuk hal itu.

Justru teori Worm Hole inilah yang mendukung peristiwa Isra' wal Mi'raj Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam. Karena perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam adalah perjalanan antar ruang dan waktu.

Dalil yang mengabadikan peristiwa Isra' wal Mi'raj Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam adalah ayat pertama dari surah Al-Isra sekaligus ayat pertama dalam Juz 15. Berikut firman Allah subhanahu wa ta'ala :
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Selain itu juga ada pada surah An-Najm ayat 1-18 :
Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru,dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat,Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.

sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.

Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.
Dalam kacamata iman, seseorang haruslah mempunyai sifat sami'na wa athana (kami dengar dan kami taat)  artinya percaya dan meyakini peristiwa tersebut. Karena tidaklah mungkin Tuhan yang Menciptakan Alam beserta isinya dan Nabi yang diutus-Nya melakukan kebohongan. Seperti apa yang dilakukan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, dalam sebuah riwayat disebutkan :
Bahwa setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang musyrikin datang menemui Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.  Mereka mengatakan : “Lihatlah apa yang telah diucapkan temanmu (yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)!” Abu Bakar berkata : “Apa yang beliau ucapkan?”. Orang-orang musyrik berkata : “Dia menyangka bahwasanya dia telah pergi ke Baitul Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit, dan peristiwa tersebut hanya berlangsung satu malam”.

Abu Bakar berkata : “Jika memang beliau yang mengucapkan, maka sungguh berita tersebut benar sesuai yang beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau adalah orang yang jujur”. Orang-orang musyrik kembali bertanya: “Mengapa demikian?”.

Abu Bakar menjawab: “Aku membenarkan seandainya berita tersebut lebih dari yang kalian kabarkan. Aku membenarkan berita langit yang turun kepada beliau, bagaimana mungkin aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis ini?”

(Hadits diriwayakan oleh Imam Hakim dalam Al Mustadrak 4407 dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha).
Walaupun peristiwa Isra' wal Mi'raj Nabi Muhammad sangatlah singkat, namun terdapat banyak kisah kejadian. Diantaranya sebagai berikut :

  1. Pertemuan dengan Para Nabi seperti Adam, Isa, Musa, Ibrahiim dan lainnya.
  2. Melihat wujud asli Malaikat Jibril
  3. Turun kewajiban yang langsung diperintahkan Allah subhanahu wa ta'ala kepada Nabi Muhammad  yakni Shalat 5 kali dalam sehari.
  4. Melihat Sidratul Muntaha, Baitul Ma'mur, dan Singgasana Allah subhanahu wa ta'ala.
  5. Melihat secara langsung Surga dan Neraka
Kesimpulannya ialah kita wajib mengimani peristiwa Isra' wal Mi'raj karena menunjukan keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad dibandingkan para Nabi yang lain. Tidak percaya terhadap peristiwa ini samalah kafir karena menganggap Allah dan Rasul-Nya telah berdusta.


Referensi : 
1. Buku Percikan Sains dalam Al-Qur'an karya Ir. H. Bambang Pranggono, MBA, IAI
2. Kisah Isra' Mi'raj, diakses dari https://muslim.or.id/9377-kisah-isra-miraj.html

Beri Komentar
Silahkan berkomentar dengan bijak. Jika tidak memiliki akun Disqus, silahkan klik komentar Disqus lalu klik kolom Nama dan centang "Komentar Sebagai Tamu"